Bogor, Cyebernews.com – Julukan “Segitiga Bermuda” kerap disematkan pada kawasan Gunung Salak. Gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Bogor dan Sukabumi ini dikenal bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena rentetan peristiwa misterius yang terus menjadi perbincangan hingga kini.
Gunung Salak memiliki karakteristik alam yang unik dan cukup berbahaya. Dengan hutan tropis yang sangat lebat, kontur tanah yang curam, serta jalur pendakian yang tidak selalu jelas, kawasan ini sering kali membuat pendaki—baik pemula maupun berpengalaman—kesulitan menavigasi arah. Kabut tebal yang turun secara tiba-tiba juga menjadi salah satu faktor utama yang membuat jarak pandang sangat terbatas.
Istilah “Segitiga Bermuda Gunung Salak” mulai populer setelah berbagai insiden kecelakaan dan hilangnya orang di kawasan ini. Salah satu peristiwa paling dikenal adalah jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 pada 9 Mei 2012. Pesawat buatan Rusia tersebut menabrak tebing Gunung Salak saat melakukan penerbangan demonstrasi, menewaskan seluruh penumpang dan awak yang berjumlah 45 orang.
Tragedi tersebut memperkuat anggapan masyarakat bahwa Gunung Salak memiliki aura misterius. Bahkan sebelum kejadian itu, sudah banyak laporan mengenai pendaki yang tersesat, hilang selama berhari-hari, hingga ditemukan dalam kondisi lemas atau bahkan meninggal dunia.
Selain faktor alam, cerita-cerita mistis turut memperkuat citra Gunung Salak sebagai kawasan angker. Sejumlah pendaki mengaku pernah mengalami kejadian di luar nalar, seperti mendengar suara gamelan di tengah hutan, melihat sosok bayangan, hingga merasa “diputar-putar” di jalur yang sama tanpa bisa keluar.
Warga sekitar pun memiliki cerita turun-temurun mengenai keberadaan makhluk gaib yang dipercaya menjaga kawasan tersebut. Beberapa lokasi bahkan dianggap sakral dan tidak boleh dimasuki sembarangan. Kepercayaan ini semakin memperkuat persepsi bahwa Gunung Salak memiliki kemiripan dengan Segitiga Bermuda yang terkenal dengan fenomena hilangnya kapal dan pesawat secara misterius.
Namun demikian, para ahli dan pihak berwenang menegaskan bahwa sebagian besar kejadian di Gunung Salak dapat dijelaskan secara ilmiah. Faktor cuaca ekstrem, perubahan angin, serta kondisi geografis yang kompleks menjadi penyebab utama kecelakaan. Selain itu, kesalahan navigasi, kurangnya persiapan, serta minimnya pengetahuan jalur juga sering menjadi faktor pemicu.
Gunung Salak juga memiliki banyak lembah dan tebing curam yang tersembunyi di balik lebatnya vegetasi. Dalam kondisi berkabut, area tersebut sangat berbahaya karena dapat mengelabui pandangan, bahkan bagi pilot sekalipun. Hal inilah yang diduga menjadi salah satu penyebab kecelakaan pesawat di masa lalu.
Meski dikenal penuh misteri, Gunung Salak tetap menjadi tujuan favorit para pendaki dan pencinta alam. Keindahan air terjun, keanekaragaman flora dan fauna, serta suasana hutan yang masih alami menjadi daya tarik tersendiri. Namun, di balik keindahan tersebut, tersimpan potensi bahaya yang tidak boleh dianggap remeh.
Pihak Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) terus mengingatkan agar para pendaki mematuhi prosedur keselamatan, seperti melapor sebelum mendaki, menggunakan pemandu lokal, serta membawa perlengkapan yang memadai. Pendaki juga diimbau untuk tidak memaksakan diri jika kondisi cuaca tidak mendukung.
Fenomena “Segitiga Bermuda Gunung Salak” pada akhirnya menjadi perpaduan antara fakta dan kepercayaan. Di satu sisi, ada penjelasan ilmiah yang rasional, namun di sisi lain, kisah-kisah mistis tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Hingga kini, Gunung Salak masih menyimpan banyak misteri yang belum sepenuhnya terungkap. Entah sebagai fenomena alam semata atau sesuatu yang berada di luar jangkauan logika manusia, kawasan ini akan selalu menjadi salah satu tempat paling menarik sekaligus penuh teka-teki di Indonesia.
Penulis: Jeffri
