Pengelolaan lingkungan hingga kepedulian sosial perusahaan air minum di Cicurug-Cidahu disorot warga sekitar sumber mata air Kubang.
Sukabumi, Cybernews – Program Corporate Social Responsibility (CSR) sejatinya menjadi bentuk tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Di Indonesia, program CSR diarahkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan melalui berbagai sektor penting, mulai dari lingkungan hidup, pendidikan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga bantuan sosial dan pembangunan sarana umum.
Dalam pelaksanaannya, CSR mencakup berbagai kegiatan seperti penghijauan dan reboisasi, pengelolaan limbah ramah lingkungan, penggunaan energi terbarukan, pemberian beasiswa pendidikan, pelatihan keterampilan masyarakat, bantuan modal UMKM, hingga pembangunan fasilitas umum seperti jalan lingkungan, penerangan jalan, air bersih, dan balai warga.
Selain itu, perusahaan juga diharapkan hadir di tengah masyarakat ketika terjadi musibah atau bencana. Kepedulian sosial terhadap warga sekitar menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan program CSR yang dijalankan sebuah perusahaan.
Namun hal tersebut kini menjadi sorotan warga terhadap perusahaan air minum PT AGM yang sumber mata airnya berada di wilayah Kampung Kubang, Desa Bakanpari, Kecamatan Cicurug–Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Warga menilai perhatian perusahaan terhadap kondisi lingkungan dan masyarakat sekitar masih perlu dipertanyakan. Kondisi aliran sungai kecil menuju lokasi mata air Kubang disebut terlihat kurang terurus, sehingga memunculkan keluhan dari masyarakat setempat.
Tidak hanya itu, warga juga menyayangkan sikap perusahaan ketika terjadi musibah rumah roboh yang dialami salah seorang warga yang tinggal di sekitar area mata air perusahaan tersebut. Menurut informasi yang dihimpun, pihak keluarga korban telah berusaha menghubungi perusahaan melalui sambungan telepon seluler dengan harapan mendapat perhatian ataupun bantuan, namun respons yang diterima dinilai kurang memuaskan.
Yang lebih disesalkan, menurut tokoh masyarakat setempat, orang tua korban yang akrab disapa Mbah Aam disebut memiliki sejarah dan jasa dalam proses awal pembukaan akses mata air tersebut pada masa lalu. Karena itu, warga berharap perusahaan tidak melupakan sejarah dan tetap memperhatikan masyarakat sekitar yang selama ini hidup berdampingan dengan keberadaan perusahaan.
“Perusahaan seharusnya tidak hanya mengambil manfaat dari sumber daya alam, tetapi juga hadir ketika masyarakat sekitar membutuhkan perhatian dan bantuan,” ungkap salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Masyarakat berharap pihak perusahaan dapat lebih terbuka dan meningkatkan kepedulian sosial terhadap lingkungan sekitar, baik melalui program CSR yang nyata maupun komunikasi yang baik dengan warga.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT AGM belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan dan harapan masyarakat tersebut. (Tim)
